DPRD Kabupaten SukabumiDprd sukabumi

Bayu Permana Ikuti Ekspedisi Patanjala, Gaungkan Harmoni Alam dan Budaya

9
×

Bayu Permana Ikuti Ekspedisi Patanjala, Gaungkan Harmoni Alam dan Budaya

Sebarkan artikel ini

MEDIASATU.INFO – Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Sukabumi dari Fraksi PKB, Bayu Permana, mengikuti kegiatan Ekspedisi Nusa Jawa Barat bertajuk Laku Estu Patanjala di Kabuanaan yang berlangsung pada 26 April hingga 2 Mei 2026. Kegiatan tersebut mempertemukan puluhan perwakilan masyarakat adat dari wilayah Jawa Barat dan Banten dalam perjalanan spiritual sekaligus ekologis.

Ekspedisi itu menelusuri sejumlah kawasan penting yang dianggap memiliki nilai ekologis dan spiritual, mulai dari kawasan DAS Cisanggarung di kaki Gunung Ciremai hingga wilayah adat di Sukabumi, Bogor, dan Lebak Banten. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam melalui pendekatan budaya dan tradisi leluhur.  

Dalam keterangannya, Bayu menyebut konsep Patanjala memandang Pulau Jawa sebagai satu kesatuan hidup yang harus dijaga keseimbangannya. Menurutnya, gunung, sungai, dan kawasan hutan memiliki peran penting sebagai penyangga kehidupan sekaligus pusat keseimbangan ekologis.

“Menjaga sumber air dan kawasan hutan bukan hanya tanggung jawab masyarakat adat, tetapi menjadi kepentingan bersama,” ujar Bayu dalam kegiatan tersebut.  

Rombongan ekspedisi juga melakukan silaturahmi ke sejumlah kasepuhan adat, termasuk wilayah Baduy di Kabupaten Lebak. Dalam pertemuan itu, para tokoh adat menegaskan pentingnya menjaga kawasan hutan dan sumber mata air sebagai bagian dari warisan leluhur yang harus dilestarikan untuk generasi mendatang.  

Kegiatan tersebut dinilai sejalan dengan lahirnya Peraturan Daerah (Perda) Patanjala di Kabupaten Sukabumi yang sebelumnya turut digagas Bayu Permana. Perda itu menitikberatkan pada pelestarian pengetahuan tradisional dalam perlindungan kawasan sumber air dan lingkungan hidup berbasis kearifan lokal.  

Selain menjadi perjalanan budaya, ekspedisi tersebut juga membuka ruang diskusi mengenai kebijakan lingkungan berbasis tradisi masyarakat adat. Bayu menilai pendekatan ekologis berbasis budaya lokal dapat menjadi alternatif solusi dalam menghadapi krisis lingkungan dan perubahan iklim yang semakin nyata.  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *